Baru-baru ini, Turki telah menarik perhatian dunia dengan pertemuan penting antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Pertemuan ini membahas kemitraan strategis yang melibatkan berbagai aspek kerja sama antara kedua negara. Selain itu, kekuatan militer Turki juga menjadi topik pembicaraan menarik, terutama ketika dibandingkan dengan Indonesia. Berdasarkan data dari Global Fire Power dan Global Power Index 2024, Turki ditempatkan di posisi kesembilan dan delapan secara global, menjadikannya salah satu negara dengan militer terkuat di Asia.
Berbagai faktor mendukung peringkat kuat Turki dalam urusan militer. Negara ini memiliki sekitar 883.900 personel total, termasuk 355.200 personel aktif. Angkatan daratnya dilengkapi dengan lebih dari 2.000 unit tank dan hampir 61.000 kendaraan lapis baja. Selain itu, Turki juga memiliki ribuan unit artileri dan peluncur roket. Di udara, kehadiran 201 pesawat tempur, 28 drone, dan 111 helikopter tempur memperkuat kapabilitasnya. Angkatan lautnya tidak kalah mengesankan dengan 17 kapal frigate, 9 korvet, 13 kapal selam, dan 41 kapal patroli.
Pertemuan antara kedua kepala negara tersebut bertujuan untuk mengevaluasi hubungan bilateral dan merencanakan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kerja sama. Diskusi mencakup isu-isu regional dan global terkini, serta perkembangan terakhir di Ukraina. Langkah ini menunjukkan komitmen Turki untuk memperkuat posisinya sebagai pemain penting di panggung internasional.
Kunjungan Zelensky ke Turki membuka peluang baru bagi kedua negara untuk bekerja sama lebih erat. Dengan kekuatan militer yang signifikan, Turki terus menunjukkan kemampuannya sebagai mitra strategis yang dapat diandalkan. Pertemuan ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana kolaborasi internasional dapat memperkuat stabilitas dan keamanan di berbagai wilayah.