Masuknya karakter Ruth Bat-Seraph, dikenal sebagai Sabra, ke dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) melalui film "Captain America: Brave New World" telah memicu perdebatan luas. Sejak pengumuman bahwa Shira Haas akan memerankan Sabra pada September 2022, berbagai pihak bereaksi terhadap perubahan latar belakang karakter ini. Awalnya diperkenalkan sebagai agen Mossad di komik Marvel, Sabra kini digambarkan dengan latar belakang yang berbeda, menciptakan kontroversi antara pendukung dan penentang Israel.
Pertama kali muncul di komik Marvel pada awal 1980-an, Sabra telah menjadi simbol yang kontroversial. Dalam versi aslinya, dia adalah agen Mossad, dinas intelijen Israel. Namun, untuk adaptasi layar lebarnya, tim produksi MCU memutuskan untuk mengubah beberapa aspek penting dari karakter tersebut. Produser Nate Moore menjelaskan bahwa Sabra masih merupakan warga negara Israel, tetapi tidak lagi bekerja untuk Mossad. Sebaliknya, dia sekarang bekerja di pemerintah AS, menambahkan dimensi baru ke cerita.
Karakter Sabra juga memiliki hubungan erat dengan Presiden Thaddeus Ross, dimainkan oleh Harrison Ford. Ruth Bat-Seraph bekerja di bawah kepemimpinan Ross, memberikan perspektif unik tentang konflik internal dan eksternal yang dialami oleh tokoh-tokoh utama dalam film. Latar belakang Sabra sebagai generasi pertama imigran Israel ke AS menambah kompleksitas karakter ini, menciptakan dinamika yang menarik antara identitas dan nasionalisme.
Berbeda dengan versi komik, Sabra di MCU bukanlah mutan atau agen Mossad. Dia lebih mirip dengan mantan Black Widow, dengan latar belakang yang diubah agar sesuai dengan narasi film. Produser Moore menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah membuat versi terbaik dari karakter ini sambil tetap setia pada esensinya. Mereka ingin menampilkan sisi manusiawi Sabra tanpa harus mengikuti semua detail asli dari komik.
Sejak pertama kali muncul di seri "The Incredible Hulk" pada tahun 1981, Sabra telah menjadi titik pertikaian karena membawa isu politik ke dalam dunia superhero. Karakter ini sering dikritik karena dianggap sebagai simbol propaganda pro-Israel, terutama dalam situasi di mana dia bertindak tanpa rasa bersalah terhadap korban Palestina. Meskipun demikian, MCU mencoba menginterpretasikan ulang Sabra dengan cara yang lebih sensitif dan modern, menyesuaikannya dengan ekspektasi penonton global.
Dengan debutnya dalam "Captain America: Brave New World," Sabra membuka bab baru dalam narasi superhero Marvel. Adaptasi karakter ini menunjukkan bagaimana studio berusaha untuk menyeimbangkan antara setia pada warisan asli dan memperbarui karakter agar relevan dengan audiens masa kini. Perubahan yang dibuat mencerminkan upaya untuk menciptakan cerita yang lebih inklusif dan beragam, meskipun tetap menghadapi kritik dari berbagai kalangan.