Pemahaman tentang asal-usul niat Puasa Ramadan merupakan hal yang penting bagi umat Islam. Sebelum memulai ibadah puasa, setiap Muslim memiliki kebiasaan untuk membaca lafaz niat tertentu. Proses ini mencerminkan komitmen spiritual yang mendalam untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Meski demikian, para ulama telah memberikan panduan yang beragam mengenai pelafalan niat tersebut.
Dalam mazhab Syafi’i, ditekankan bahwa niat bukan hanya sekadar perbuatan hati, melainkan juga harus disertai dengan pengucapan lisan. Menurut Imam Nawawi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Majmu’, niat yang paling sempurna adalah ketika seseorang menyatakan niatnya secara verbal dan mental. Ini bertujuan untuk memperkuat tekad dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah. Namun, beberapa kitab lain seperti I’anatut Thalibin menekankan bahwa niat cukup dilakukan dalam hati saja, meskipun disunnahkan untuk melafalkannya.
Niat Puasa Ramadan menjadi lebih bermakna ketika dipahami sebagai bentuk komunikasi antara hamba dan Tuhan. Dengan menyatakan niat, individu tidak hanya menegaskan tujuan ibadahnya tetapi juga merasakan kedekatan spiritual yang lebih intens. Tradisi ini, yang banyak diikuti oleh pengikut mazhab Syafi’i, mengajarkan kita untuk selalu introspeksi diri dan memastikan bahwa setiap tindakan kita dilandasi oleh niat yang tulus. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya konsistensi antara ucapan dan perbuatan, serta meningkatkan kesadaran kita terhadap tanggung jawab spiritual.