Pada masa kerajaan Singasari, seorang pemuda bernama Raden Wijaya berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan musuh. Dalam peristiwa ini, Raden Wijaya mengalami serangkaian tantangan dan kemenangan yang mengejutkan. Awalnya, ia diminta oleh mertuanya, Raja Singasari Kertanagara, untuk berperang melawan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Namun, usia muda dan kurangnya pasukan membuat upaya tersebut tidak berhasil. Setelah perlawanan yang sia-sia, Raden Wijaya berangkat ke utara, mencari jalan keluar dari serangan tentara Kediri. Akhirnya, setelah sekian waktu berjuang dan bertahan, ia berhasil memimpin sisa pasukannya menuju keselamatan di Sumenep.
Dalam suasana penuh ketegangan, pada suatu hari di pertengahan abad ke-13, Raden Wijaya terpaksa melarikan diri dari serangan pasukan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang. Pemuda itu awalnya diberi tugas oleh Kertanagara, raja Singasari, untuk melawan penyerbuan musuh. Namun, dengan usia yang masih belia dan pasukan yang minim, perlawanannya tidak memberikan hasil yang signifikan. Raden Wijaya pun memilih untuk bergerak ke arah utara, meninggalkan istana Singasari.
Saat bergerak ke utara, Raden Wijaya didampingi oleh para pengikut setianya seperti Lembu Sores, Gadjah Pagon, Medang Dangdi, Malusa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kapetengan, Wirota Wiragati, dan Pamandana. Mereka melewati sawah yang baru dibajak, sambil berusaha menghindari kejaran tentara musuh. Di tengah-tengah pelarian, Raden Wijaya sempat hampir tertangkap oleh Patih Kediri, Kebo Mundarang. Namun, dengan cepat tangkas, ia melemparkan tanah bajakan ke wajah sang patih, menyebabkan penglihatannya terhalang. Manfaatkan momen tersebut, Raden Wijaya dan pengikutnya berhasil meloloskan diri.
Beristirahat sejenak, Raden Wijaya dan para pengikutnya berganti pakaian dan membagi cawat geringsing sebagai simbol semangat baru. Mereka percaya bahwa kemenangan akan datang. Pada sore hari, mereka mengepung dan menyerang tentara musuh yang sedang merayakan kemenangan di pura Singasari. Pertempuran sengit terjadi, dan kedua belah pihak mengalami banyak korban. Meskipun dua putri Kertanagara tertangkap dan dibawa ke Kediri, pasukan sisa Singasari akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke utara, menuju Sumenep, tempat Arya Wiraraja berkuasa.
Dari perspektif seorang pembaca, cerita ini mengajarkan tentang pentingnya ketangkasan dan strategi dalam menghadapi situasi sulit. Pelarian Raden Wijaya menunjukkan bagaimana seseorang dapat tetap bertahan dan berjuang meski dalam kondisi yang sangat mengancam. Semangat dan keberanian Raden Wijaya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tidak mudah menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi tantangan hidup.