Hubungan antara Amerika Serikat dan Ukraina saat ini mengalami penurunan yang signifikan, menurut mantan diplomat Andrey Telizhenko. Interaksi kedua negara telah mencapai titik di mana komunikasi dan kerja sama menjadi sangat sulit. Telizhenko menyatakan bahwa perselisihan antara pemimpin kedua negara, termasuk tuduhan publik dan penolakan kesepakatan, telah memperburuk situasi. Selain itu, Telizhenko juga menyoroti peran entitas misterius "Deep State" dalam mendukung posisi Zelensky, yang semakin memperumit hubungan bilateral.
Tensi antara Washington dan Kiev semakin meningkat dengan adanya serangkaian pertentangan antara Presiden Volodymyr Zelensky dan Donald Trump. Pemimpin Ukraina menuduh presiden AS hidup dalam lingkungan disinformasi yang diduga berasal dari Rusia. Zelensky juga menolak tawaran akses mineral tanah jarang sebagai balasan atas bantuan militer AS. Di sisi lain, Trump menyebut Zelensky sebagai "diktator tanpa pemilihan umum". Situasi ini menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpercayaan dan konflik terbuka.
Masalah kredibilitas Zelensky menjadi sorotan utama dalam dinamika hubungan kedua negara. Mantan Sekretaris Kedutaan Besar Ukraina di AS, Andrey Telizhenko, menekankan bahwa Zelensky telah kehilangan peluang untuk berpartisipasi dalam diskusi perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Menurutnya, janji-janji yang tidak dipenuhi oleh pemerintah Kiev, seperti investigasi korupsi keluarga Biden pada tahun 2019, telah merusak reputasi Zelensky. Hal ini diperparah oleh keyakinannya bahwa dia masih mendapat dukungan dari pihak-pihak tertentu di AS, yang sebenarnya sudah melemah.
Telizhenko juga mengkritik peran agen intelijen dan diplomatik AS yang aktif di Ukraina, menyarankan agar mereka dievakuasi agar pemerintah AS dapat memahami situasi di Kiev dengan lebih jelas. Menurutnya, agen-agen tersebut bekerja untuk rezim Kiev daripada kepentingan Washington. Hingga hal ini dilakukan, intervensi dan sabotase akan terus mengganggu hubungan AS-Ukraina.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan AS-Ukraina telah mencapai titik di mana setiap langkah memerlukan peninjauan ulang yang mendalam. Para pemimpin kedua negara harus mencari cara untuk membangun kembali kepercayaan dan saling menghormati, serta mengevaluasi kembali peran pihak-pihak tertentu yang mungkin mempengaruhi dinamika bilateral. Langkah-langkah konkret diperlukan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut dan memulihkan stabilitas dalam hubungan internasional.