Situasi saat ini di Gaza tidak hanya menunjukkan kemajuan dalam proses perdamaian tetapi juga memperkuat posisi Hamas dalam negosiasi. Dalam pernyataan resmi, Hamas menekankan pentingnya tahap kedua perjanjian gencatan senjata dan siap untuk menyelesaikan proses pertukaran secara menyeluruh. Langkah ini diharapkan dapat membawa gencatan senjata permanen dan penarikan penuh dari wilayah pendudukan.
Kehadiran masif masyarakat Palestina selama penyerahan tawanan menjadi simbol kekuatan dan solidaritas. Momen ini menunjukkan bahwa perlawanan rakyat Palestina telah berakar dalam dan tidak mudah goyah. Partisipasi publik yang besar membuktikan bahwa tujuan perjuangan tidak hanya didukung oleh kelompok tertentu, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, pesan yang disampaikan adalah bahwa setiap langkah menuju perdamaian harus didasarkan pada konsensus nasional. Ini menegaskan bahwa kebijakan unilateral atau tindakan represif justru akan memperlemah upaya damai dan merusak hubungan antara kedua belah pihak.
Hamas dengan tegas menolak klaim militer Israel yang menyebutkan pembunuhan anak-anak Israel, Ariel dan Kfir Bibas, oleh penculik mereka. Menurut Hamas, tuduhan tersebut merupakan upaya untuk mengalihkan tanggung jawab atas tragedi yang terjadi. Kelompok ini menekankan bahwa kematian keluarga Bibas adalah akibat langsung dari operasi militer brutal Israel di Gaza.
Penghancuran luas dan genosida yang dilakukan oleh pasukan Israel telah mengakibatkan banyak korban jiwa tak bersalah. Dalam situasi seperti ini, Hamas menyerukan agar dunia internasional lebih objektif dalam menilai konflik dan memastikan bahwa hak-hak manusia dihormati. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan dan mendukung upaya perdamaian yang berkelanjutan.